Mental Health
Sehat
sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti
tentang kesehatan jiwa. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap
kalah penting dibandingkan kesehatan fisik. Padahal saat ini sudah ada asuransi
kesehatan yang menawarkan perlindungan terkait kesehatan mental.
Kesehatan
mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang
besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. Peristiwa-peristiwa tersebut
dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan anak, atau stres berat
jangka panjang.
Jika
kesehatan mental terganggu, maka timbul gangguan mental atau penyakit mental.
Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres,
berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, dan memicu hasrat untuk
menyakiti diri sendiri.
Beberapa
jenis gangguan mental yang umum ditemukan, antara lain depresi, gangguan
bipolar, kecemasan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan obsesif
kompulsif (OCD), dan psikosis. Beberapa penyakit mental hanya terjadi pada
jenis pengidap tertentu, seperti postpartum depression hanya
menyerang ibu setelah melahirkan.
WHO
menyebutkan, anak muda alias generasi milenial saat ini lebih rentan terkena
gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan
dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun finansial.
Misalnya upaya untuk lulus kuliah, mencari pekerjaan, atau mulai mencicil
rumah.
Selain
perubahan hidup, teknologi juga turut berkontribusi terhadap kesehatan mental
generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan media sosial. Media sosial
seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak seindah kenyataan.
Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada generasi muda.
Anak Muda dan Masyarakat Urban
Lebih Rentan Alami Gangguan Mental
Gangguan
mental, karena gejalanya tidak seperti penyakit fisik, acapkali terlambat
disadari. Padahal di Indonesia, jumlah penderitanya terbilang tidak
sedikit.
Setengah
dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun. Menurut WHO,
banyak kasus yang tidak tertangani sehingga bunuh diri akibat depresi menjadi
penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun.
Merujuk
data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penderita
skizofrenia atau psikosis sebesar 7 per 1000 dengan cakupan pengobatan 84,9%.
Sementara itu, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih
dari 15 tahun sebesar 9,8%. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu
sebesar 6%.
Masih
berdasarkan data Kementerian Kesehatan Indonesia, masyarakat perkotaan lebih
rentan terkena depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan obsesif
kompulsif. Meningkatnya jumlah pasien gangguan jiwa di Indonesia dan di
seluruh dunia disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan hidup manusia, serta
meningkatnya beban hidup, terutama yang dialami oleh masyarakat urban.
Namun jika
dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia patut berbangga. Pasalnya
tingkat stres masyarakat Indonesia ternyata tidak setinggi negara lain. Fakta
ini berdasarkan Survei Skor Kesejahteraan 360° tahun 2018 yang diselenggarakan
Cigna.
Berdasarkan
survei tersebut, sebanyak 86% responden dari seluruh negara yang turut
berpartisipasi mengatakan bahwa mereka merasa stres. Namun di Indonesia,
responden yang mengatakan bahwa mereka merasa stres ‘hanya’ sebesar 75%.
Jika
dibuat perbandingan, ada 3 dari 4 responden yang merasa stres. Meski persentase
tersebut terkesan tinggi, tingkat stres ini merupakan tingkat stres terendah
dari seluruh negara yang disurvei. Persoalan keuangan dan pekerjaan
merupakan penyebab stres yang utama.
Sedangkan
25% sisanya mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak merasa stres. Persentase
ini merupakan yang terendah dibandingkan 22 negara lainnya. Di negara tetangga
seperti Singapura dan Thailand, tingkat stres masyarakatnya bahkan berada di
atas rata-rata, yaitu sebesar 91%.
Walaupun terbilang rendah, Kesehatan mental bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Karena Kesehatan mental bukanlah sesuatu yang konkrit. Kesehatan mental tidak bisa dibedakan antara sehat mental dan sakit mental. Namun, Kesehatan mental dilihat dari suatu kontinum. Bisa saja kita berada di tengah, atau di kanan, atau mungkin di kiri.
(sc: channel youtube Satu Persen)
Untuk mengetahui di mana posisi
Kesehatan mental kita bisa menggunakan patokan dari WHO, apabila kita:
·
Menyadari potensi diri sendiri
·
Menghadapi stress sehari-hari
·
Bekerja secara produktif
·
Menghasilkan kontribusi yang bermanfaat kepada
masyarakat.
Maka kita
bisa dikatakan sehat secara mental. Tetapi, poin-poin tersebut hanyalah sebuah
patokan saja. Untuk mengetahui secara pasti tentu kita perlu mengunjungi
psikolog atau psikiater. Kita tidak bisa menentukan seberapa jauh kita sehat
secara mental seperti “eh gw 20% sehat mental nih”. Tidak sesederhana dan se
hitam putih itu.
Sebaliknya apabila posisi kita
dalam kontinum kiri maka kemungkinan besar kita memiliki hal-hal yang sedang
mengganggu kesehatan mental kita. Contohnya seperti diputusin pacar, tidak
lulus seleksi PTN, dtinggalkan oleh keluarga dekat, dsb.
It’s
okay not to be okay
Adalah hal
yang wajar apabila kita memilki gangguan mental. Sama seperti kita mengalami
flu, demam, dan penyakit lainnya. Wajar jika kita sedih dan depresi. Tetapi,
kesalahan sosial berupa stigma di masyarakat belakangan ini,
“ah lu lemah banget sih”
“ah baperan dah lu
“yaelah biasa aja kali, gw juga pernah lebih …. “
Padahal secara psikologis itu adalah hal yang normal apabila
kita berada di situasi yang membuat mental kita terganggu, seperti depresi,
ganggua kecemasan, dsb.
SOLUSI?
Lalu bagaimanakah
solusinya? Sejauh ini mayoritas masyarakat menggunakan metode “self-diagnosed”.
Mereka berselancar di dunia maya untuk mencari informasi seputar kesehatan
mental di mana sampai titik tertentu metode ini bagus agar membuat kita lebih
waspada. Tetapi, tidak semua sumber di internet bisa kita percaya sehingga kita
perlu pendekatan kepada psikolog atau psikiater yang dapat mendiagnosis kita
apakah kita memiliki gangguan mental atau tidak dengan banyak cara dan metode
seperti: wawancara, mengisi kuisioner, tes psikologi, dsb.
Banyaknya faktor
yang memengaruhi kesehatan mental. Oleh karena itu, solusi dari kasusnya pun
beragam. Ada yang perlu pendekatan secara biologi (kondisi fisik dan otak kita
bagaimana), psikologi (perasaan, emosi, dan mindset kita seperti apa), sosial
(bagaimana kondisi di lingkungkan kita), atau ketiganya (biopsikososial).
Apabila kondisi
biologis yang menjadi penyebab maka psikolog tersebut bisa merujuk kita ke
psikiater yang dapat memberi resep obat. Apabila kondisi psikologis yang menjadi
penyebab maka psikolog lah yang menangani secara langsung bisa dengan
memberikan treatment lain. Seperti :
·
Memberikan PR
·
Membaca buku
·
Mengkuti workshop
·
Self-management
Dan masih banyak lagi. Karena
penyebabnya yang banyak tentu penyelesaiannya juga banyak
Jadi,
untuk menangani kesehatan mental kita yang terganggu kita bisa menghubungi
psikolog, teman, atau sahabat terdekat kita untuk curhat atau berkonsultasi.
Jangan merasa bahwa kita adalah orang yang lemah yang terlalu baper Ketika menghadapi
situasi yang membuat kita depresi. Ingat
It is okay not to be okay.

Comments
Post a Comment